Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Maret 2016

KH. Ahmad Fauzan, Pahlawan dari Jepara

Ziarah Akbar Haul KH. Ahmad Fauzan

KH. Ahmad Fauzan dilahirkan kurang lebih pada tahun 1320 H/1905 M di dukuh Penggung, Gemiring Lor, Kec. Nalumsari. Dari keluarga Ibu Nyai Thahirah binti K. Harun bin Kyai Arif dan KH. Abdul Rasul bin Kyai Ahmad Sanwasi.

Kyai Ahmad Fauzan adalah salah satu dari lima ulama non koorperatif terhadap kolonial Belanda di kawasan Pantai Utara Pulau Jawa. Lima Ulama’ tersebut ialah: Mbah Sulaiman (Raden Ngabei Brontodiwiryo, makamnya di Jakenan, Pati), Mbah Abu Sujak, Mbah Mursidin, Mbah Bunggoro dan Mbah Ahmad Sanwasi (kakek Mbah Fauzan, makanya di Penggung dekat Bale Kambang Mayong Jepara).

Beliau berangkat dari keluarga sederhana, santun, relegius dan alami. Kondisi keluarga yang demikian itulah yang menumbuhkan berkah tersendiri bagi beliau KH. Ahmad Fauzan untuk membina keluarga dan masyarakat di sekitarnya.

Pada zaman Jepang Al-Maghfurlahu mengalami penderitaan yang luar biasa, ditangkap dan disiksa oleh Jepang atas dakwaaan jajaran pamong praja Kabupaten Jepara sebagai biang kerusuhan dan kekacauan di kawasan Jepara. Kondisi ini disebut sebagai masa beliau dalam “pesakitan”. Namun karena tidak terbukti akhirnya beliau dibebaskan oleh Jepang.

Pada tahun 1945, suatu peristiwa yang menggemparkan, terjadi di wilayah Pati. Di wilayah ini para kyai berkumpul dan bermusyawarah bagaimana kiat-kiat agar tentara Jepang menyerah. Atas dasar aklamasi, para kyai menyepakati KH. Ahmad Fauzan untuk memimpin penyerangan melawan tentara Jepang. Niat yang tulus ikhlas dan tekad bulat beliau akhirnya dikabulkan oleh Allah SWT, seluruh pasukan Jepang bertekuk lutut pada rakyat Indonesia di Pati.

Memasuki era kemerdekaan Al-Maghfurlahu sangat aktif pada gerakan-gerakan dalam rangka mempertahankan kemerdekaan. Misalnya sebelum aksi polisi Belanda sampai di Jepara. Disamping itu, beliau sebagai figure pemimpin oleh Alm. Amin Fattah, serta beliau menggelar pengasmaan bambu runcing di halaman masjid Darussalam Saripan Jepara. Disamping itu, beliau menjadi asisten bupati yang waktu itu dipimpin Bupati Militer Mayor Ishak.

Oleh karena itu beliau menjadi incaran tentara kolonial Belanda dimana saja dan selalu dikejar-kejar. Sehingga akhirnya ditangkap di Bangsri dan dimasukkan ke dalam sel tahanan Belanda di Jepara. Baru setelah terjadi penyerahan kedaulatan dari tangan Belanda kepada Republik Indonesia tahun 1949, beliau dibebaskan dari tahanan. Setelah bebas, beliau kembali ke masyarakat dalam rangka ikut mengisi kemerdekaan. Beliau langsung diangkat oleh pemerintahan RI dan diamanati membangun serta memimpin Kepala Kantor urusan Agama Kabupaten Jepara yang pertama setelah revolusi dan pernah menjadi anggotra DPRD.

Sekalipun menjadi elit birokrat, beliau tidak pernah melupakan jati dirinya yang berdarah santri. Hal itu terbukti ketika beliau mengadakan kun jungan di kantor-kantor KUA (Kantor Urusan Agama) kecamatan pasti dibarengi menghadiri pengajian masyarakat (yang sekarang menjadi pengajian idaroh syuriah) yang diprogramkan oleh beliau melalui kepala-kepala KUA di wilayah kecamatannya. Oleh karena itu beliau memberikan persyaratan kepada setiap kepala KAU harus dapat membaca kitab kuning.

Hasil dari kegiatan pengajian rutin tersebut, pada tahun 1955 dibawah kepemimpinan Al-Maghfurlahu KH. Ahmad Fauzan dan KH. Abdur Rosyid beserta dukungan penuh solid para kyai-kyai partai NU (Nahdlotul Ulama’) Jepara mengukir kemenangan mutlak dalam pemilu RI tahun 1955. Dengan cara dan sikap integritas serta akomodatif yang dimilikinya, beliau berhasil menjalin komunikasi dengan semua pihak baik kawan maupun lawan.

Wafatnya KH. Ahmad Fauzan
Detik-detik kepergiannya ke rahmatullah, beliau masih dalam keadaan muthala’ah kitab tafsir yang kebetulan sedang disowani Alm. Abdul Hamid, seorang kepercayaan beliau sebagai bendahara/bagian keuangan ketika beliau menjabat sebagai Kandepag Jepara.

Akhirnya tepat hari Selasa, 6 Robi’us Tsani 1933 H atau bertepatan dengan 17 Mei 1972 M, pukul 11.00 WIB beliau kembali ke rahmatullah. Menjelang pemakaman, ada musyawarah yang cukup melibatkan banyak orang, ada beberapa pendangan tentang tempat pemakaman. Ada yang berpendapat sebaiknya dimakamkan di Jepara karena beliau kyainya orang Jepara, ada pula yang menginnginkan di Bangsri karena istri beliau yang terakhir di Bangsri. Sebagai jalan tengah, KH. Amin Sholeh, Allahu yarhamuh, memberikan fatwa agar keputusan pemakaman ini dekembalikan/diserahkan kepada istri beliau yang masih hidup, yaitu Ibu Hj. Mu’minah. Beliau (Ibu Hj. Mu’minah) menyarankan agar dimakamkan di Bangsri. Akhirnya semua keluarga, para tokoh dan masyarakat kaum muslimin sepakat menerima keputusan tersebut.

Akhirnya beliau dimakamkan di pemakaman Suromoyo Kedungleper Ampean Bangsri Kabupaten Jepara. Hadir ketika pemakaman, KH. Arwani Amin Kudus, KH. Abdullah Hadziq Balekambang Mayong Jepara, KH. Abdullah Salam Kajen Pati dan ulama’-ulama’ se-Karesidenan Pati.

Sumber: http://kholishotulfauziyah.blogspot.co.id/
Dipublikasikan: Rabu, 19 Februari 2014
Read more

Jumat, 25 Maret 2016

Biografi KH. Musthofa Bisri dan Karya-karyanya

KH. Bisri Musthofa merupakan satu diantara sedikit ulama Indonesia yang memiliki karya besar. Beliaulah pengarang kitab tafsir al – Ibriz li Ma’rifah Tafsir Al Qur’an al –‘Aziz. Kitab tafsir bimakna pesantren ini selesai beliau tulis pada tahun 1960. Karya-karya beliau tak sebatas pada bidang tafsir, di bidang lain pun seperti tauhid, fiqh, tasawuf, hadist, tata bahasa Arab, sastra tak kalah banyaknya.

Selain itu, KH. Bisri Mustofa juga dikenal sebagai orator atau ahli pidato. Beliau, menurut KH. Saifuddin Zuhri, mampu mengutarakan hal-hal yang sebenarnya sulit sehingga menjadi begitu gambling, mudah diterima semua kalangan baik orang kota maupun desa. Hal-hal yang berat menjadi begitu ringan, sesuatu yang membosankan menjadi mengasikkan, sesuatu yang kelihatannya sepele menjadi amat penting, berbagai kritiknya sangat tajam, meluncur begitu saja dengan lancer dan menyegarkan, serta pihak yang terkena kritik tidak marah karena disampaikan secara sopan dan menyenangkan (KH. Saifuddin Zuhri : 1983, 27)

Masa Kecil Gus Mus

KH. Bisri Musthofa dilahirkan di desa Pesawahan, Rembang Jawa Tengah pada tahun 1915 dengan nama asli Masyhadi. Nama Bisri ia pilih sendiri sepulang dari menunaikan haji di kota suci Makkah. Beliau adalah putra pertama dari empat bersaudara pasangan H. Zaenal Musthofa dengan isteri keduanya bernama Hj. Khatijah.

Di usinya yang kedua puluh, KH. Bisri Musthofa dinikahkan oleh gurunya yakni Kiai Cholil dari Kasingan (tetangga Pesawahan) dengan seorang gadis bernama Ma’rufah yang tidak lain adalah putri Kiai Cholil sendiri.

Dari pernikahannya ini, KH. Bisri Musthofa dikaruniai delapan orang anak, yakni Cholil, Musthofa, Adieb, Faridah, Najihah, Labib, Nihayah dan Atikah. Dua orang putra yakni Cholil (KH. Cholil Bisri) dan Musthofa (KH. Musthofa Bisri) mungkin yang paling familiar dikenal masyarakat sebagai penerus kepemimpinan Pondok Pesantren.
KH. Bisri Musthofa wafat pada tanggal 16 Februari 1977.

Pendidikan Gus Mus
KH. Bisri Musthofa lahir dalam lingkungan pesantren, karena memang ayahnya seorang Kiai. Sejak umur tujuh tahun, beliau belajar di sekolah “ Angka Loro” di Rembang. Di sekolah ini, beliau hanya bertahan satu tahun, karena ketika hampir naik kelas dua beliau diajak orang tuanya untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Rupanya, ditempat inilah Allah memberikan cobaannya, dalam perjalanan pulan di pelabuhan Jedah, ayahnya yang tercinta wafat setealah sebelumnya menderita sakit di sepanjang pelaksanaan haji ( KH.Saifuddin Zuhir : 1983, 24)

Sepulang dari Makkah, KH. Bisri Musthofa sekolah di Hollan Indische School (HIS) di Rembang. Tak lama kemudian, ia dipaksa keluar oleh Kiai Cholil dengan alasan sekolah tersebut milik Belanda. Akhirnya, Ia kembali ke sekolah “ Angka Loro”nya yang dulu. Ia belajar di Angka Loro hingga mendapatkan sertifikat dengan masa pendidikan empat tahun.

Pada usia 10 tahun, KH. Bisri Musthofa melanjtukan pendidikannya ke pesantren Kajen, Rembang. Selanjutnya pada 1930, belajar di Pesantren Kasingan pimpinan Kiai Cholil.

Setahun setelah dinikahkan oleh Kiai Cholil dengan putrinya yang bernama Marfu’ah, KH. Bisri Musthofa berangkat lagi ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji bersama-sama dengan beberapa anggota keluarga dari Rembang. Namun seusai haji, KH. Bisri Musthofa tidak pulang ke tanah air, melainkan memilih bermukim di Mekah dengan tujuan menunutut ilmu di sana.

Di Mekah, beliau belajar dari satu ke guru lain secara langsung dan privat. Tercatat beliau pernah belajar kepada Syeikh Baqil, asal Yogyakarta, Syeikh Umar Hamdan Al Maghriby, Syeikh Ali Malik, Sayid Amid, Syeikh Hasan Massath, Sayid Alwi dan KH. Abdullah Muhaimin. (KH. Bisri Musthofa: 1977, 18)

Dua tahun lebih KH. Bisri menuntut ilmu di Mekah. KH. Bisri Musthofa pulang ke Kasingan tepatnya pada tahun 1938 atas permintaan mertuanya.

Setahun kemudian, mertunya yakni Kiai Cholil meninggal dunia. Sejak itulah KH. Bisri Musthofa menggantikan posisi guru dan mertunya itu sebagai pemimpin pesantren.

Disamping kegiatan mengajar di Pesantren, beliau juga aktif mengaisi ceramah-ceramah (pengajian) keagamaan. Penampilannya diatas mimbar amat mempesona para hadirin yang hadir, sehingga beliau sering diundang untuk mengisi ceramah dalam berbagai kesempatan diluar daerah Rembang, seperti Kudus, demak, Lasem, Kendal, Pati, Pekalongan, Blora dan daerah lain di Jawa Tengah.

Karya-karya Gus Mus
KH. Bisri Musthofa banyak menulis buku (kitab). Hal ini, barangkali, dilatarbelakangi salah satunya oleh makin besarnya jumlah santri disisi lain, sementara saat itu sulit sekali ditemukan kitab-kitab atau buku-buku pelajaran untuk para santri. Berkat kemampuan, inisiatif dan kreatifitas yang dimilikinya, KH. Bisri Musthofa berhasil menyusun dan mengarang banyak buku. Tetapi, selain karya-karya KH. Bisri Musthofa yang ditujukan untuk kalangan santri sebagai bahan pelajaran di pesantren yang dipimpinnya, karya-karya beliau juga ditujukan untuk kalangan luas di pedesaan yang aktif mengaji di surau-surau atau di masjid-masjid di mana beliau sering memberikan ceramah. Karena itu bahasa yang digunakan KH. Bisri dalam karya-karyanya tersebut disesuaikan dengan bahasa yang digunakan para santri dan masyarakat pedesaan, yakni menggunakan bahasa daerah (jawa), dengan tulisan huruf arab pegon, disamping juga ada karya-karya menggunaakan bahasa Indonesia.

Jumlah karya tulis kurang lebih mencapi 54 buah judul, meliputi, tafsir, hadist, aqidah, fiqh, sejarah nabi, balaghah, nahwu, sharaf, kisah-kisah, syi’iran, do’a, tuntunan modin, naskah sandiwara, khutbah-khutbah, dan lain-lain. Karya-karya tersebut dicetak oleh beberapa perusahaan percetakan diantaranya percetakan Salim Nabhan Surabaya, Progressif Surabaya, Toha Putera Semarang, Raja Murah Pekalongan, Al Ma’arif Bandung dan yang terbanyak dicetak oleh percetakan Menara Kudus. Karya Beliau yang paling monumental adalah Tafsir Al – Ibriz (3 Jilid), disamping kitab Sulamul Afham (4 Jilid).

Karya-karya KH. Bisri Musthofa jika diklasifikasikan berdasarkan bidang keilmuan dibagai kedalam beberapa fan berikut.

- Bidang Tafsir
Selain tafsir Al Ibriz, KH. Bisri Musthofa juga menyusun kitab Tafsir Surat Yasin. Tafsir ini bersifat sangat singkat dapat digunakan para santri serta dai di pedesaan. Termasuk arya beliau dalam bidang tafsir ini adalah al-iksier yang berarti “ Pengantar Ilmu Tafsir” ditulis sengaja untuk para santri yang sedang mempelajari ilmu tafsir.

- Hadist
Beberapa kitab hadis yang beliau susun diantaranya :
Sullamul Afham, terdiri dari 4 jilid, berupa terjemah dan penjelasan. Didalamnya memuat hadist-hadist hukum syara’ secara lengkap dengan keterangan yang sederhana
Al Azwad al Musthofawiyah, berisi tafsiran Hadist Arba’in Nawawi untuk para santri pada tingkatan Tsanawiyah
Al – Mandhomatul Baiquny, berisi ilmu Musthalah al Hadist yang berbentuk nadham yang diberi nama

- Aqidah
Rawihatul Aqwam
Durarul Bayan

- Syari’ah
Sullamul Afham li Ma’rifati Al Adillatil Ahkam fi Bulughil Maram
Qawa’id Bahiyah, Tuntunan Shalat dan Manasik Haji
Islam dan Shalat

- Ahlak / Tasawuf
Washaya al-Abaa’ lil Abna
Syi’ir Ngudi Susilo
Mitra Sejati
Qashidah al-Ta’liqatul Mufidah (Syarah Qashidah al Munfarijah karya Syeikh Yusuf al Tauziri dari Tunisia)

- Ilmu Bahasa Arab
Jurumiyah
Nadham ‘Imrithi
Alfiah Ibn Malik
Nadham al Maqhsud
Syarah Jauhad Maknun

- Ilmu Mantiq / Logika
Tarjamah Sullamul Munawarraq, memuat dasar-dasar berpikir yang sekarang dikenal dengan ilmu Mantiq dan logika.

- Sejarah
An-Nibrasy
Tarikhul Anbiya
Tarikhul Awliya

- Bidang lain, diantaranya
Buku tuntunan para modin berjudul Imamuddin
Tiryaqul Aghyar terjemah Qashidah Burdaul Mukhtar
Kitab kumpulan do’a berjudul Al Haqibah

Karya-karya KH. Bisri Musthofa awalnya dipakai di Pesantren Kasingan Rembang untuk kalangan Pesantren sendiri. Tetapi, dalam perkembangann berikutnya , karya-karya KH. Bisri tersebut juga digunakan di berbagai pesantren di Jawa Tengah, seperti Pesantren Lasem, Rembang, Kudus, Demak, Semarang dan pesantren di wilayah Jawa Tengah, bahkan sampai ke beberapa kota di Jawa Timur.

Sumber: http://pustaka.islamnet.web.id/ yang dikutip dari Intelektualisme Pesantren Juz 3
Penerbit: Diva Pustaka Jakarta
Read more